|
Sabtu, 27 Juni 2020
CINTA KARENA ALLAH
Jumat, 26 Juni 2020
KAMPUS API ABADI, Sebuah Tempat Sejuta Makna
“Love never keeps a man from pursuing his destiny.”
Ada sebuah photo yang mengingatkanku tentang sepenggal kisah cinta. Photo “Kampus Api Abadi”, captionnya “Sebuah tempat sejuta makna. Itu bagiku. Bagimu?”
Seingatku, photo itu juga kuunggah di facebook, ada yang komentar bahwa tempat itu juga sangat berarti baginya. Bahkan minta ijin padaku untuk membagi photo tersebut di dinding facebook-nya. Ternyata bermanfaat juga bagi orang lain. Padahal aku mengambil photo itu dengan tak sengaja, sekenanya saja.
Waktu itu, aku bersama suami sedang menjemput anak kami yang memang menimba ilmu di situ. Putri semata wayang kami pulang study tour dari Bali. Beberapa bis sudah ada yang datang, tapi bis yang ditumpanginya belum kelihatan.
Diparkirkanlah mobil di halaman depan sekolah itu. Berhubung tak ada tempat untuk duduk di sekitar situ, aku tetap di dalam mobil. Tiba-tiba begitu melihat tulisan “Kampus Api Abadi”, refleks saja tangan ini “cekrek”. Kemudian sampai di rumah terpikirlah untuk mengabadikan sebuah kenangan cinta. Lalu keluarlah caption seperti itu.
Tepatnya bulan
September 1997, secara bersamaan kami diterima
di sekolah tersebut sebagai guru honorer. Aku mengajar Ekonomi/Akuntansi, ia
mengajar Pendidikan Agama Islam. Kami juga sama-sama mendapatkan tugas mengajar kelas
dua. Usiaku ketika itu 25 tahun 6 bulan, Usianya 24 tahun 6 bulan. Satu tahun
lebih muda dariku.Itulah mengapa aku menolak ketika ia pertama kali menyatakan keseriusannya untuk mengajakku menikah. Tak ada bayangan sama sekali akan berumah tangga dengan orang yang lebih muda. Apalagi waktu itu penampilannya tak jauh beda dengan murid-murid kami. Iya, posturnya masih seperti anak SMA. Meski secara pola pikIr sebenarnya dia cukup dewasa dan mandiri. Namun, itupun belum membuatku bisa menerima niat baiknya.
Rabu, 24 Juni 2020
RUMAH IDAMAN
Meski bukan rumah idaman bagi kebanyakan orang, akan tetapi mereka nyaman berada di dalamnya. Karena bukan tanpa alasan mereka memutuskan untuk memilih tinggal di situ. Di rumah yang didirikan di atas tanah kakak tertua Hafid.
Awalnya, Hafid minta pertimbangan pada Hanun. Sebelum mendirikan rumah di atas tanah yang memang tak seberapa luas itu.
“Dik, gimana kalau kita bikin rumah? Kecil-kecilan aja.” Hafid mengawali pembicaraannya sambil berdiri di pintu kamar.
“Emang kita punya tanah?” jawab Hanun yang sedang duduk di tepi ranjang kayu sambil menidurkan buah hatinya.
“Ya nggak…” Hafid menjawab lirih sambil melangkah menghampiri wanita yang berusia hampir tiga puluhan itu.
Hanun tersenyum memandang wajah laki-laki yang usianya setahun lebih muda darinya. “Lalu kita mau bikin rumah di mana, Mas?”
“Begini Dik, ada tanah kosong milik Mbak Zahra. Tanah itu tuh, yang di depan Mushola Al Ikhlas. Tahu nggak?”
“Tanah itu kayaknya sempit ya, Mas?”
Hanun sepertinya agak keberatan. Hanun menginginkan tanah yang lebih luas. Seperti impiannya waktu kecil, memiliki rumah dengan halaman yang luas dan kebun buah di belakang rumah.
Impian yang terinspirasi dari sebuah rumah dekat rumah kontrakan orang tuanya dulu. Rumah yang besar dan megah, halamannya sangat luas penuh dengan tanaman buah. Pagarnya tinggi terbuat dari besi. Catnya putih. Mewah. Entahlah rumah itu milik siapa. Kata penjaganya, rumah itu dulu milik orang Belanda. Sekarang rumah itu masih ada. Namun tampak tak terawat dan agak menyeramkan.
Dahulu Hanun bersama teman-teman SD-nya sering bermain ke rumah itu. Mereka sering mengambil buah bentuknya bulat kecil, warnanya ada yang oranye, ada yang merah. Mungkin yang merah itu yang sudah matang. Salah satu dari mereka pernah bertanya pada penjaga rumah itu, namanya buah jeruk kingkit. Mereka mengambil hanya untuk mainan, karena memang tidak enak dimakan.
Menurut ceritanya seumur-umur juga baru sekali itu mereka menemukannya. Belakangan ini Hanun membaca di internet, ternyata jeruk kingkit merupakan tanaman obat.
Imajinasi masa kecil tentang rumah idaman seperti terpahat di pikiran Hanun. Sedangkan rumah impian Hafid sederhana. Berada di desa dengan nuansa lingkungan hijau dan asri. Ada kenyamanan dan ketenangan.
Menurut Hafid, itu bisa didapatkan dari rumah yang memiliki surau. Atau paling tidak dekat dengan surau. Barangkali terilhami dari rumah orang tuanya yang dekat dengan surau milik keluarga besarnya. Kebetulan ayah Hafid yang menjadi imamnya.
Inilah yang membuatnya ngotot memilih lahan yang tak begitu luas itu untuk mendirikan rumah yang telah diidam-idamkannya. Lahan yang letaknya persis di depan sebuah surau. Hafid memang sama sekali tak mempertimbangkan luasnya. Ia justru lebih memprioritaskan lokasinya.
***
Siang itu, Hanun tengah melipat pakaian yang baru saja diangkat dari tempat jemuran. Hafid mendekat, lalu duduk di sebelahnya. Sambil memegang pundak Hanun, Hafid mulai mengeluarkan jurus-jurus maut rayuannya. Merayu Hanun agar menyetujui pendirian rumah di lahan sempit itu. Untuk menguatkan alasannya, Hafid bak ustaz kondang menyampaikan tausiyah singkat tentang keutamaan tempat tinggal yang dekat dengan surau.
“Istriku yang dirahmati Allah, ketahuilah... Ada beberapa keutamaan rumah yang terletak di dekat surau. Pertama, hati akan adem saat mendengar azan. Bayangkan kalau jauh, bisa jadi tidak mendengar azan, saking jauhnya. Kedua, rumah akan aman dari gangguan setan. Ketiga, tidak berat untuk beribadah, terutama salat berjama’ah. Keempat, gampang mengajak anak ke surau. Dan Kelima, kecipratan berkah dari surau.” jelasnya penuh semangat.
***
Beberapa hari kemudian, dengan senang hati Hanun menyetujuinya. Hanun menyampaikan persetujuan itu dengan sedikit kata yang terlontar dari mulutnya. Tanpa panjang lebar. Tentunya dibumbui sedikit senyuman. Seperti yang selalu diajarkan Hafid kepadanya.
Mungkin ini jawaban dari Allah atas doa-doa Hafid. Alhamdulillah, akhirnya Hafid dan keluarga kecilnya memiliki rumah yang sesuai keinginan hati mereka. Dekat dengan surau. Dan kebahagiaan itu semakin terasa di hati mereka. Saat buah hatinya tiba-tiba tanpa diperintah bergegas lari ke surau ketika azan maghrib berkumandang. Padahal waktu itu dia masih berumur sekitar tiga tahun. Sampai di dalam surau dia menirukan gerakan-gerakan salat. Lalu saat Hafid mengajari anak-anak yang tinggal di sekitar surau membaca Al Qur’an, sang anak ikut duduk sambil pegang Buku Iqro’. Ikut-ikutan minta diajari.
Betapa bahagia ternyata rumah dekat dengan surau. Betul yang pernah disampaikan Hafid waktu itu, tidak kesulitan mengajak anak salat di surau. Bahkan yang lebih membahagiakan Hafid dan Hanun, anak semata wayangnya bercita-cita menjadi hafizah.
Masya Allah. Tak pernah merugi punya rumah dekat dengan surau, rumah Allah.
Selasa, 23 Juni 2020
LELAKI DI TERAS RUMAH
Jumat, 19 Juni 2020
JEJAK PENA MITA (2)
Kamis, 18 Juni 2020
JEJAK PENA MITA (1)
Kamis, 11 Juni 2020
KAMUKAH WANITA CANTIK ITU?
Selasa, 09 Juni 2020
JODOH TAK PERNAH SALAH
Rabu, 03 Juni 2020
LANGSING HANYA DENGAN MENGUBAH MINDSET
BALASAN KEBAIKAN
Senin, 01 Juni 2020
Raih Bahagia Berujung Malapetaka
GLOBALISASI
Globalisasi adalah suatu proses dimana semua penduduk di dunia ini bisa saling terhubung bertukar segala sesuatu tanpa terikat b...
-
Letak dan Luas Benua Asia Benua Asia terletak pada 26° BT - 170° BT dan 11° LS - 80° LU. Hampir seluruh wilayahnya berada di belahan bumi ut...
-
“ Every day is a journey, and the journey itself is home.” ( Matsuo Basho) Dua tahun setelah menikah Hafid dan Hanun menempati r...
